Rehat Sejenak Bekerja Di Industri TIK – Bagian 1.

—TL;DR–

Bismillah.

Selama 13 tahun bekerja di industri TIK (Teknologi, Informatika, Komunikasi) akhir Januari lalu saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan saya bekerja selama 6 tahun terakhir dan mengambil rehat untuk memulai petualangan menantang membesarkan Sambal Galaksi dan dunia kuliner.

Banyak hal sudah saya raih, kembangkan, dan pelajari mengenai TIK (hingga kini siklus belajarnya masih tetap berlanjut).

Belajar TIK  sejak jaman SMP sudah kenal Word Star, lalu terbengong-bengong melihat saudara jauh ketika berkunjung ke rumahnya melihat dia asyik mengoprek PC hingga di jaman SMA mengenal Norton Commander  melalui DOS untuk melihat file-file gambar, bagaimana jagonya dia mengoprek CD Player untuk bisa digunakan memutar film Drive-nya Mark Dacascos.

 

Lalu di perkuliahan sejak tahun pertama dilalui dengan berpetualang ke rumah teman untuk belajar, karena pada tahun 1999 hingga 2000 belum memiliki PC sendiri. Cerita berubah ketika orangtua memiliki cukup rejeki untuk saya bisa merakit PC sendiri dengan pilihan jatuh kepada prosesor AMD Athlon Thunderbird 500MHz sebagai  otaknya yang kala itu mengalahkan clock speed Intel Pentium III dengan Windows 98SE, 64MB RAM Visipro, 8 Gb HDD Seagate, lalu mulai sering dikit-dikit main ke Glodok, mulai rajin baca majalah InfoKomputer atau pun CHIPS, mulai belajar sistem operasi Linux karena trennya saat itu sedang demam Linux.

Hingga akhirnya Linux pun jadi digunakan sebagai dasar untuk menyusun skripsi Sarjana yang Alhamdulillah bisa mendapatkan hasil memuaskan dengan nilai A.

Puncaknya belajar TIK ketika almarhum Bapak dengan all-out mendukung saya mengambil kursus Cisco Networking Academy di tahun akhir kuliah jelang wisuda, yang pada saat itu seharga Rp4.5 juta (belum termasuk ujian sertifikasinya) di sebuah SMK negeri di Rawa Mangun Jakarta Timur.

Almarhum Bapak adalah pendukung paling konsisten dan bersemangat perjalanan saya belajar di dunia TIK, semenjak saya disuruh les komputer untuk sekedar mengenal Word Star atau pun Lotus 123 di jaman SMP dengan disket 5.2 inci mau pun 3.4 inci, hingga saat di perkuliahan memerlukan buku sumber berbahasa Inggris seharga ratusan ribu rupiah sebagai bahan skripsi mungkin saya tidak akan bisa menyelesaikan kuliah dengan nilai memuaskan, dan tanpa dukungan Mama dari finansial, tak akan bisa juga saya bisa berkuliah, dan memiliki PC. I love them so much, dan hanya doa yang bisa saya panjatkan kepada gusti Allah SWT untuk mereka.

Setelah lulus kuliah, apa yang saya rencanakan dan didukung almarhum Bapak terutama mengenai kursus CNAP mulai menunjukkan hasil, saya diterima bekerja di perusahaan manufaktur di kawasan industri Jababeka dengan gaji awal Rp1.7 juta. Imbalan yang tidak begitu besar namun membawa kesenangan karena hanya perlu berjalan beberapa ratus meter dari rumah pada saat itu.

Nasib berubah, di tahun 2005 Fujitsu Indonesia memanggil saya untuk mewawancarai, dan Alhamdulillah saya diterima bekerja. Seorang yang lahir di kota Jakarta, ditakdirkan untuk kembali ke kota kelahirannya untuk bekerja, setelah sebelumnya kuliah di sana.

Dan di tahun ini pula saya beruntung bisa mempersunting wanita idaman saya yang selama 12 tahun berikutnya selalu menjadi energi saya.

Saya menjalani pekerjaan di Fujitsu secara komuter menggunakan bis kota, sesuatu yang saya lakukan hingga mengundurkan diri dari pekerjaan di tahun 2018 (mengapa saya memilih komuter dari Cikarang, Bekasi?; Karena saya jatuh cinta terhadap Cikarang, Bekasi. 🙂 ) .

Pengetahuan saya bertambah dari sekedar mengetahui teknis Routing & Switching Cisco dan Linux kini juga mengenal Server, sebuah PC kelas enterprise yang didesain untuk tahan beroperasi 24  jam dalam seminggu selama 1 tahun. Pun dengan Linux, sebuah proyek mengantarkan saya untuk mengenal lebih dalam Linux Clustering dan belajar ke negeri jiran mengenai Fujitsu Primecluster yang berjalan di server Fujitsu Primergy dengan sistem operasi Linux.

nDalalah, kuliahnya belajar Linux Clustering, eh pas kerja ketemu Clustering juga, meski yang satu bertipe HPC, satu lagi tipenya HA.

Kemudian di tahun 2008, saya mengundurkan diri dari Fujitsu Indonesia dan diterima bekerja di Sun Microsystems Indonesia, sebuah cabang dari perusahaan TIK terkenal di dunia yang di masa jayanya satu lembar sahamnya mencapai 247USD dan membawa saya bertualang dalam berkenalan dunia SPARC, dan level enterprise tinggi.

Di sini pula saya kembali ditugaskan untuk belajar perangkat lunak milik Sun Microsystems, salah satunya Sun Cluster. Ya, sebuah sistem Clustering HA yang berjalan di platform x86 dan SPARC. 😀

Di Sun Microsystems Indonesia pula saya mendapatkan gaji double digit dengan fasilitas penunjang yang wah untuk posisi teknisi lapangan, sangat membanggakan bagi saya yang berasal dari Cikarang, Bekasi dan saat itu saya berujar ke almarhum Bapak, all of it because of you, Pak.

Hingga di tahun 2010 nasib Sun Microsystem global di dunia berubah dari sebuah perusahaan yang mengklaim The dot in dotcom hingga akhirnya lunglai dan dibeli oleh Oracle.

Life goes on, ketidakpastian membuat saya mengambil keberanian untuk memastikan dahulu hidup saya.

Di pertengahan 2010, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dan bergabung dengan Tech Mahindra, sebuah perusahaan TIK yang fokus disektor jasa pelayanan pengelolaan TIK dari India.

Di Tech Mahindra, saya mengenal infrastruktur TIK lebih jauh lagi, dengan mengenal sistem operasi milik HP, HP-UX yang berjalan di sistem server Integrity berbasiskan prosesor Intel Itanium dari RX series hingga Superdome milik klien yang dikelola oleh Tech Mahindra, dengan istilah bisnis Managed Service sesuatu yang saya baru ketahui di 6 tahun kemudian merupakan bagian dari pengetahuan IT Service Management yang termaktub dalam ITIL (IT Infrastructure Library).

Di Tech Mahindra juga saya mengenal apa itu dunia telekomunikasi dari perspektif TIK, termasuk layanan utama Core Billing.

Satu hal dari perjalanan karir saya selalu percaya diri dan optimis besok akan lebih baik, karena sesuai Hadits Rasulullah, optimis adalah bagian dari ibadah dan dianjurkan.

“Berharap hal-hal kebaikan juga merupakan ibadah kepada Allah.” (HR Tirmidzi dan Hakim).

Selanjutnya di bagian 2 akan saya tuliskan lebih banyak. Kini saatnya tidur. Karena subuh segera hadir.

Thank you. 🙂

Alhamdulillah

 

Iklan