Kilas balik baik tahun 2010 dan awal 2011.

Bagian 1.

Alhamdulillah;

Setelah mengundurkan diri dari Sun Microsystems Indonesia pada bulan Juni 2010, saya kemudian melanjutkan kinarya saya di perusahaan TI multinasional dari India, Tech Mahindra. Harus saya akui, bekerja selama dua tahun di Sun Microsystems Indonesia menawarkan banyak tantangan yang membutuhkan ketahanan fisik yang prima, dan masalah fisik inilah yang sering menjadi kendala bagi saya hingga pada Mei 2010 mencapai titik nadirnya. Hingga hari ini di luar tantangan fisik yang sering jadi kendala, Sun Microsystems Indonesia adalah ā€œkawah Candradimukaā€ yang fantastis dalam kehidupan saya, dan saya berterima kasih kepada Allah SWT telah ditakdirkan menjadi bagiannya, dan saya selalu mengharap di hati kepada Allah SWT, untuk diberikan kebaikan kepada teman-teman keluarga Sun Microsystems Indonesia.

Tech Mahindra, salah satu perusahaan multinasional papan atas dari India. Hadir di IndonesiaĀ  menjawab tantangan kebutuhan TIK masyarakat melalui solusi terbaik untuk operator telekomunikasi selular besar di Indonesia. Di perusahaan ini, saya mendapatkan pengetahuan dan pergaulan baru. Banyak profesional terbaik Indonesia (praktisi dan non praktisi TIK) bertemu dengan praktisi TIK profesional dari India bersinergi dalam harmonisasi multikultural. Pengalaman bekerja selama tiga setengah tahun di Fujitsu Indonesia, dua tahun di Sun Microsystems Indonesia di lingkungan multikultural, menjadi modal saya untuk tidak gagap dan gegar budaya.

Umur yang hendak mencapai kepala tiga seperti menjadi tujuh belas dan segar kembali karena bekerja di Tech Mahindra sangat dinamis bersama rekan-rekan yang profesional tanpa melepaskan tanggung jawab pekerjaan. Kami bekerja bersama, dan bersenang-senang (hampir selalu) bersama.

Liburan di Semarang Jawa Tengah.

Melepaskan 2010, memasuki Februari 2011, saya memutuskan untuk berlibur bersama keluarga. Perjalanan dimulai pagi 11 Februari 2011 dengan tujuan kota Semarang menggunakan KA Argo Muria. Awalnya saya agak khawatir putra saya berumur 2.5 tahun, Faris, akan sedikit sulit bepergian jauh dan ternyata saya salah, Faris dan juga istri saya Rini, menikmati perjalanan hampir 10 jam menuju Semarang.

Di kota Semarang, selama 2 malam 3 hari kami menginap di rumah Pakde, dan selain terlepaskan rindu bertemu Pakde & Bude (semoga Allah SWT merahmati & mengasihi beliau), rumah beliau menjadi surga yang dirindukan ketika ingat kota Semarang. Oh ya, sebelumnya saya sudah dua kali mengunjungi kota Semarang semasa bekerja di Fujitsu Indonesia dan kali ini saya berkesempatan menjadi ā€œpemandu wisata (kuliner)ā€ bagi istri saya.

Wisata singkat di hari sabtu 12 Februari di kota Semarang dimulai dengan mengunjungi Mesjid Agung Jawa Tengah. Mesjid yang terletak di jalan Gajah, kota Semarang, pembangunannya dimulai pada September 2002 dan selesai pada November 2006 yang diresmikan presiden republik Indonesia.

Pada prasastinya terdapat keterangan bahwa mesjid agung ini adalah ā€œtetengerā€ kembalinya tanah wakaf bondo mesjid besar kauman Semarang. Dari sejarah perkembangan Islam di nusantara, Jawa Tengah merupakan ā€œporosā€ penyebaran Islam di pulau Jawa dengan Demak sebagai sentranya.

Bangunan Mesjid ini termasuk arsitektur sangat megah, canggih danĀ  multifungsional. Namun saya pribadi bukan pengagum arsitektur mesjid ini. Arsitektur yang kental suasana etnikal (asimilasi budaya), sederhana, lebih saya sukai, dan jika bicara arsitektur mesjid, pengaruh kultur Hindu (Majapahit) di Mesjid Kudus danĀ  Mesjid Demak atau pengaruh kultur Tionghoa di mesjid Ampel sangat menarik, ditambah dengan faktor histori religiusnya.

Jalan-jalan dilanjutkan ke jantung kota Semarang, dimulai dengan mengunjungi gereja tertua di Jawa Tengah, GPIB Immanuel atau gereja Blenduk. Saya agak heran dengan komitmen pemda Semarang dalam melakukan preservasi cagar budaya karena kawasan area gereja Blenduk ini dipenuhi bangunan-bangunan tua yang seharusnya tidak dilewati oleh kendaraan. Dan jika dilihat pada situs wikipedia, saya mengagumi bagaimana kolonial Belanda ternyata memiliki penataan dan perencanaan yang baik di area tersebut. Tapi ini Indonesia, ā€œunikā€.

Semarang memang panas oleh karena itu saya dan keluarga melanjutkan perjalanan menuju jalan Pemuda,Ā  ke Toko OenĀ  yang menyediakan ā€œpendingin tenggorokanā€ es krim. Toko Oen yang pertama kali lahir tahun 1930 di kota Semarang ini memiliki ā€œsaudaraā€ dengan Toko Oen di Malang, Jawa Timur. Suasana yang kental dengan gaya dan menu eropa tempo dulu nyata kentalnya terlihat dari gaya pakaian pegawainya, dan sebuah piano besar dan yang terpenting, kenyamanan.

Di jalan Pemuda ini juga terdapat Lunpia Mbak Lien yang sudah dikenal kenikmatannya, saya pun tak lupa menyempatkan membeli dua besek’ (bungkusan khas dari bambu) Lunpia basah dan kering.

Selanjutnya menuju gedungĀ  Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atau acap dikenal Lawang Sewu. Pada saat dikunjungi bangunan tersebut sedang mengalami restorasi yang menurut pemandu wisatanya dilakukan oleh PT.KAI. Restorasi ini berupaya mengembalikan ciri warna gedung ke warna aslinya. Kembali saya terkagum kepada kolonial Belanda yang memiliki komitmen tinggi dalam tata kota, karena fungsional gedung Lawang Sewu sangat canggih melebihi eranya, sebagai contoh adalah masalah drainase dan penampungan air (water torrent) gedung tersebut yang memiliki interkoneksi dengan daerah gereja Blenduk, yang anehnya pemerintah (daerah) Indonesia sepertinya lebih ā€œunikā€ dalam membangun seperti diunjukkan kota kembarannya, Jakarta.

Tujuan akhir adalah makan siang di jalan Gajah Mada,Ā  yang dituju adalah Tahu Pong (dari kata Kopong) Gajah Mada. Tiada kata lain selain kata enaknya makan siang dengan menu tahu pong komplit.

Minggu 13 Februari, kami pamit kepada keluarga Pakde untuk bertolak menuju Surabaya menggunakan KA Rajawali di pagi hari untuk kemudian lanjut menuju Probolinggo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s