Die Hard For Mudiks: Mudiks Now Or Never!

Gw: “Kalo untuk penerbangan tanggal 22 Oktobernya masih ada, Pak?” tanya gw lagi.
Bapak Biro: “Sebentar Pak, saya cek dulu” gak berapa lama bunyi kletak-kletuk kibor dipijit berbunyi di ujung telpon.
Gw: “Oke”.
Bapak Biro: “Halo pak, penerbangan jurusan Medan tanggal 22 Oktober yang tersedia dan paling terjangkau itu penerbangan maskapai Betawi Air, penerbangan jam 7 pagi dan 2 siang dengan tiket seharga sembilan ratus dua puluh lima ribu”.
Gw, dengan perasaaan sedikit berbinar-binar, bilang: “Oke deh pak, tiketnya untuk tanggal sekian, saya pesan dua, penerbangan pagi ya”.

Sep, masalah tiket kelar walaupun dengan harga yang 2x lipat (injek2 pemerintah dodol yang gag bisa kontrol harga) dari harga normal ataupun melebihi tarif tuslag, sekarang tinggal masalah nyari bingkisan ama pesenan buat mertua tercinta.

Minggu kedua Oktober 2006

Rutinitas dikantor seperti biasanya, bedanya jam masuk dan pulang dipercepat, tapi nggak ngefek lah ya, wong macet ikut-ikutan disesuaikan. Satu hal yang gw demenin, banyak tugas kantor yang menuntut gw keluar kota yang asyiknya tuh kota deket rumah, walhasil acara buka dijalan atau dikantor relatif bisa dihindari, dan waktu berbuka bersama di rumah bisa dimaksimalkan D .

Satu yang pasti hari sabtunya gw kudu anter bini untuk beli titipan mertua. ITC Cempaka Mas dikunjungi, dan …fiuuh…padet bo’, kayaknya kalo Indonesia dibilang negara miskin bo’ong deh, lah wong gw plus istri dan ratusan hingga ribuan pengunjung ITC Cempaka Mas pasti gak setuju dan cepet-cepet membantah. Satu hal pasti, jalan-jalan ke mal atau pusat perbelanjaan di bulan puasa bukan suatu hobi atau kebiasaan yang menyenangkan dan selalu gw hindari, selain karena jarak tempuh yang jauh dari rumah, plus ditambah dongkol hati liat banyak orang-orang yang cuek bebek makan dan minum, terlepas dari mereka beragama non-muslim, lets just see the fact, we’re moslem are majority in this country, we earn some respect specially in Ramadhan terlalu radikal atau fundamentalkah gw? terserah lu bilang apa, yang jelas perlakuan serupa juga diterapin sama beberapa negara non-muslim, terutama di Eropa, blame it on democracy then.

Oke, acara belanja buat mertua beres, tinggal sekarang nentuin dimana buka puasanya, dirumah (yang kayaknya gak mungkin, dan pasti buka di jalan) dan buat ikut buka puasa bareng Devy pasti gak sempet, pilihan terakhir adalah berbuka puasa di belakang kampus, tepatnya di restoran Mie Ayam Bangka, yang kebetulan juga sedang berkumpul temen-temen alumni FTI satu angkatan ) .

Minggu, ambil tiket buat perjalanan mudik. Medan, here i come D .

Minggu Ketiga Oktober 2006

Kerjaan masih sama jam kerja masih sama, ada waktu senggang untuk pulang lebih cepat, suasana menjelang lebaran mulai terasa, stasiun TV makin gencar gembar-gembor berbagai acara andalannya untuk Hari Fitri, satu hal yang gw kritik dari para pemilik stasiun TV, acara shalat tarawih langsung dari Mekkah udah gag pernah disiarin dan lebih banyak acara-acara yang agak lucu-lucuan yang dipaksain dari para pelawak yang keliatan udah mulai keabisan ide buat ngebanyol lagi, dan cenderung berperilaku dan berbahasa sarkas dan sedikit cabul, dengan mengumbar berjuta-juta uang yang tentunya disediain sponsor dan sponsor (iklan) bersedia membayar banyak, hanya 1-2 stasiun TV yang berani menayangkan acara berkonten agama Islam pada saat jam “emas” bersahur (bravo!) walaupun resikonya kehilangan penghasilan kue iklan.

Minggu ketiga ini sampai hari jum’at masih bekerja normal, untungnya jarak dari kastemer ke rumah relatif lebih dekat. Mendadak bingkisan (bronis) yang dipesen jauh-jauh buat dibawa ke Medan, ternyata nggak ada. So, terpaksa berburu panganan itu esok harinya.

Hari sabtu, ubek-ubek Cikarang nyari toko kue yang jual bronis, sempet kepikiran buat beli yang di Bakeri Belanda, tapi akhirnya ketemu juga, bronis kukus D .

Hari Minggu, setelah shalat subuh berangkat ke Cengkareng, alhamdulillah gag ada macet, cek-in jam 1/2 enam pagi, jam tujuh harusnya terbang, tapi mendadak ada kabar pahit ( , penerbangan ditunda sampai waktu gag ditentuin, dikarenakan bandara Polonia tertutup kabut/asap dan jarak pandang kurang dari 50 meter, gw dan bini pasrah, dan nunggu selama satu jam lebih sampai ada kabar baik, kita bisa terbang. ) Hore!!! mudik euy.

Minggu Keempat Oktober 2006

Sampai Medan menjelang tengah hari, dan 2 jam kemudian sampai pula di Pangkalan Brandan, kota peristirahatan. Kebanyakan waktu gw abisin ama tidur istirahat dikota ini dan berpusing-pusing menggunakan kereta (hehehe, kerenkan muter-muter kota doang naek kereta), alias hond*, alias sepeda motor.

Senin, suasana khidmat dan hening disebagian kota ini sedikit terpecahkan dengan gema takbir, karena sebagian banyak muslim sudah mulai berlebaran, bahkan ada ulama yang menganjurkan bagi yang berpuasa untuk menyudahkan puasa karena sudah terlihat bulan (syawal-red).

Bagi gw sendiri, gw gak ada masalah bahkan cenderung belajar mengarifi sikap bagi mereka yang memiliki ketegasan untuk tidak bergantung pada keputusan pemerintah (yang disinyalir banyak berbau politik) dalam penentuan 1 syawal. Tapi saya sendiri berlebaran pada hari berikutnya, yaitu selasa.

Selasa, lebaran, bermaaf-maafan, silaturahmi plus makan-makan, shalat Ied dilapangan Pertamina Brandan. Rabu, silahturahmi, makan-makan.Yaiks,…timbangan gw pasti naek lagi D .

Kamis-jumat, ke daerah Aceh Timur, tepatnya ke Rantau, Aceh tamiang, ke rumah kakak ipar di kompleks Pertamina Rantau. Subhanallah, kesampaian juga gw nginjek daerah ujung barat Indonesia (well, gak ujung banget sih) dan salah satu daerah yang cukup “rame” waktu jaman konflik dulu. Bener-bener deh, Indonesia kaya banget, tanah subur, air melimpah, bahkan saking kayanya, banyak rumah-rumah atau bahkan gedung Pertamina yang dibengkalaikan atau bahkan hancur karena dihancurkan atau karena tidak difungsikan lagi. Yap, yang jelas kalo kata mantan orang Pertamina, korupsi itu pembangunan tanpa arah yang jelas, sehingga pada saatnya terkuak akan terlihat kesia-siannya.

Jumat, sabtu minggu, senin kembali di Brandan. Minggu malem gw sakit flu, dan demam dan harus istirahat hingga hari kepulangan gw.

Selasa akhir Oktober, dalam kondisi masih sakit siap-siap pulang ke Jakarta, beranjak ke Medan jam 9 pagi, mampir dirumah kerabat mertua di Stabat, Langkat. Jam 11-an, mampir ke daerah belakang Medan plaza, buat beli bika ambon buah tangan keluarga dan temen di jakart, gak tanggung-tanggung 1 kardus gede berisi 6 kotak gede bika, plus 2 kardus gede yang isinya sirop dan barang titipan untuk kakak ipar di Kalimantan Selatan.

Jam 12 lewat, cek-in di konter Garuda di Polonia, kelar sholat, pamit ama bini dan mertua. Bini ditinggal? yo’ih gw udah komit untuk membolehkan bini di pingit lagi ama mertua, sampai tanggal 12 November nanti. Jablay, jablay deh gw D .

Jam 2 siang, naek pesawat, terbang, balik ke Jakarta selamat tinggal kota Medan, Langkat, Pangkalan Brandan yang nyaman. Setengah lima, selamat datang Jakarta, dari ketinggian ribuan kaki gw udah nyium aroma penuh tekanan dan hiruk pikuk Jakarta.

Di Jakarta, pertarungan dimulai lagi, dengan jiwa yang mudah-mudah baru, dan batere yang terisi penuh. )

Minal Aidzin Wal Faidzin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s