Musik heu eh, IT apalagi

15 11 2008

Dunia musik yang serius (belajar main gitar 2-3jam sehari, ngeband serius keluar masuk studio, bikin lagu) memang sudah lama ditinggalkan oleh saya dan tidak ada penyesalan (cuman panas aja kalo denger grup2 band metal alias melo total sekarang menjadi “raja” dan suwer cuma iri dikit ngeliat suksesnya mereka  :D ) bahwa saya tidak dinasibkan untuk menjadi seleb musik yang terkenal dan tidak dinasibkan untuk kelak akan menjadi musisi yang alat-alat musiknya di endorse untuk kemudian memiliki alat musik dengan signature sendiri.

Tetapi dunia IT emang dunia yang sudah menasibkan saya menjadi bagiannya dan ternyata memberi jalan kecil untuk saya kembali menengok dunia di atas(..eh, jangan liat ke atas sana..itu…dunia yang di paragraf atasnya :D ) well memang tidak seperti Jim Geovedi sih (we love you DJ Jim).

Lalu hubungannya IT dengan musik? ya karena dari duit IT itulah saya perlahan-lahan berusaha untuk mendekatkan diri kembali dengan dunia musik dengan membeli peralatan musik (yang pada jaman esempe hingga kuliah nggak kebeli-beli) bukan hanya sebagai penyalur salah satu hobi saya tetapi juga sebagai..ya…mungkin tabungan saya kelak bila sudah lelah dengan command line, OBP, kernel panic atau ganti system board:D

Ya, sebenarnya juga mungkin saya dan band-band yang saya tuduh “metal” pun sama naif dan polosnya, sama-sama ingin ideal dan ingin meraihnya dengan hal yang disenangi/hobi…well…mereka berhasil mewujudkannya, sedangkan saya..err…ya dikit sih berhasil juga :D .

Suatu saat mungkin saya akan memasang nama saya sendiri di sebuah papan kecil sederhana bertuliskan ” Sekolah & Studio musik bang Jesie” dan berhenti memanggul sebuah papan besar mewah bertuliskan “pegawai hebat IT”. Tetapi sampai saatnya tiba, saya tidak akan lelah dan tetap gigih memanggul papan besar mewah itu (da..heu euh emang rek neangan dahar timana deui, moal ka beuli atuh engke eta gitar,bass, drum jeung nu sejenna…goblog kok di tato! (te-em) :P )

Tapi kata Jim juga, siapa tau hobi bisa bikin kaya sekaligus nyenangin batin (disaat sekarang).

Tulisan ini dibuat tengah malam dan terlalu banyak pake kurung buka dan kurung tutup.





Epiphone Les Paul: Memainkan Gitar Les Paul tanpa menjual rumah

1 11 2008

Hal pertama, gitar listrik ini asli buatan Indonesia, di manufaktur oleh Samick Indonesia untuk Epiphone (Saya bangga akan produk Indonesia :D ). Epiphone sendiri merupakan perusahaan pembuat alat musik yang pada akhirnya dibeli oleh Gibson dan menjadi merk yang melekat dengan istilah “Gibson yang terjangkau”.

Karena membawa embel-embel (Gibson) Les Paul, maka dampaknya adalah gitar ini memiliki beberapa karakteristik dari gitar  Gibson Les Paul seperti suara gitar yang lumayan “tebal”, bobot yang lumayan berat (bahkan saya yang memiliki bobot 94 kg dan tinggi 170 cm masih menganggap gitar ini cocok juga sebagai sarana latihan bina raga :D psst…jangan marah ya Epi).

Tetapi Epiphone Les Paul memiliki terlalu banyak perbedaan dibandingkan dengan Gibson Les Paul untuk hal bahan baku gitar, lokasi pengerjaan (tenaga kerja), perangkat keras & lainnya yang menyebabkan gitar Gibson Les Paul memiliki harga lebih kurang Rp.39.500.000 (yap, tiga puluh sembilan juta rupiah) dibanding dengan Epiphone Les Paul 100 yang bisa didapat dengan harga mulai Rp.2.000.000 (well, kalau anda rajin mencari di situs komunitas musik tertentu anda bisa mendapatkannya dengan harga dimulai dari Rp.1.300.000,- :D )

Gitar Epiphone Les Paul yang saya miliki merupakan jenis untuk pemula dan termasuk dalam kategori entry level & paling terjangkau dalam keluarga Epiphone Les Paul, yaitu Epiphone LP 100.

Jujur saja, gitar ini sangat memuaskan saya yang notabene merupakan gitaris pemula, karena pada saat uji coba di dalam studio menggunakan multi efek gitar Boss ME 8 dan Ampli lokal bermerk Russel bisa menghasilkan tone yang “hampir” mendekati bunyi gitar Jimmy Page ( emang beli epi LP juga gara2 Pagey sih :P ).