Berburu Buku di Pasar Senen & Kwitang

22 09 2008

Hari sabtu tanggal 20 September 2008 yang lalu tiba-tiba saya memiliki keinginan untuk pergi ke daerah pasar Senen & Kwitang untuk alasan sentimentil, mengingat masa lalu ketika kuliah dan sekedar iseng mencari buku-buku yang memiliki kriteria menarik, tua & syukur-syukur memiliki nilai sejarah tinggi.

pasar senen

Pasar Senen (sumber tidak diketahui)

Perjalanan menuju ke daerah Pasar Senen, melalui rute melewati pasar Meister/Mester atau pasar Jatinegara menggoda pikiran saya berimanjinasi membayangkan kondisi daerah ini di jaman dahulu, terima kasih kepada buku karangan Remy Sylado yang juga turut membantu pikiran saya untuk membayangkan tempat dimana seorang Gubernur Jenderal Belanda dahulu kala pernah terdesak oleh lawannya dan melarikan diri kedaerah ini. Daerah ini dimana gereja Koinonia yang agung yang hingga saat ini merupakan bangunan bersejarah yang masih terawat,disamping mungkin bangunan bekas markas Kodim 0505 yang saat ini sedang di restorasi….ah andai saja Pemda DKI memiliki keinginan merestorasi cagar budaya selain Passer Baroe dan daerah kota tua.

jatinegara (1)

Gereja Koinonia, Jatinegara (sumber: http://www.arthazone.com/photos/coffetime/Nov2007/users/iwan/jatinegara.jpg )

jatinegara

Pasar Jatinegara (sumber:http://2.bp.blogspot.com/_a378mcmEc38/SNc78veuZUI/AAAAAAAAArQ/e6nNVwhwIBM/s1600-h/jt.JPG)

Perjalanan menyusur melewati kawasan Berlan atau Berenlaan yang sayangnya sekarang identik dengan tempat sering terjadinya perkelahian antar warga (uniknya Remy Sylado menjelaskan mengenai sejarah Berlan ini di buku Pangeran Diponegoro juga seperti kondisi tersebut pada jaman dahulu), kawasan ini pun sebenarnya masih satu-kesatuan dengan daerah Pasar Mester karena menjadi tempat dimana kekuaasaan Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada Inggris (terkuak juga di buku Remy Sylado) dan dikawasan Berlan ini banyak terdapat bekas kediaman para pahlawan militer Indonesia .

Memasuki kawasan Salemba, di daerah ini juga terdapat sebuah saksi sejarah perjalanan bangsa ini di era paska-kemerdekaan yang kelak akan mengantarkan bangsa Indonesia memasuki perubahan order pemerintahan, ya coba anda tebak sendiri ya :D , kemudian terdapat sebuah bioskop yang terkenal dan sering memutar film-film negeri India (hayo tebak apa? :D ) didaerah Jalan Kramat (Pulo) .

Sampai dikawasan Kwitang ingatan saya akan tempat ini adalah, cari buku. Ya, mencari buku baik buku baru atau bekas, buku bersejarah atau bahkan yang “non-cukai” selalu indentik dengan kawasan ini. Di kawasan ini pulalah terdapat toko buku Gunung Agung yang pada era pemerintahan Bung Karno turut berperan dalam mendistribusikan buku-buku karya Bung Karno yang mashyur dan terkenal langka. *winks* :D

Dikawasan inilah saya menemukan buku yang menurut hati saya sangat menarik, yaitu buku antik This Americas Story (WILDER, LUDLUM AND BROWN, Houghton Mifflin Company,1956) yang isinya menggambarkan sejarah negara adikuasa tersebut semenjak awal kala didirikan. Buku kedua adalah World Ways, Mans Ways and Times (1954) saya lupa detail buku ini. Hal yang membuat saya ingin membeli buku “bekas” ini adalah pemaparan sejarah yang di tuangkan dengan ilustrasi bergambar yang sangat memudahkan proses “pencernaan” buku ini. Harga yang harus ditebus untuk dua buku bagus ini, Rp.60.000,- saja :D .

World1954

World Ways, Mans Ways and Times

am stro1956

This Is Amerca’s Story

Mencari buku di pasar Senen (tidak jauh dari Kwitang) sebenarnya bukanlah hal yang lumrah, karena pasar ini lebih identik dengan pasar-pasar umumnya (yang dikelola PD.Pasar Jaya) tetapi bukan berarti pasar ini tidak terdapat buku-buku yang menarik loh (ingatan saya di masa SMA adalaha naik kereta dari Cikarang, cari buku ekonomi berbahasa inggris, dan dipasar Senen inilah ditemukan). Dan sekarang ini pasar Senen merupakan tempat “bermigrasi”nya para penjual buku yang dulunya berjualan di area trotoar/ruang terbuka hijau daerah Kwitang (inget Alm Gito Rollies di AADC :D ) yang berada di lantai 4 dari gedung PD.Pasar Jaya ini (err…hari-hari ini di lantai 2-3 saya lihat banyak sekali terdapat pedagang-pedagang atribut kampanye (parpol atau perorangan)).

Dan ternyata ditempat inilah justru saya mendapatkan “grand prize” dari kisah perburuan (dan keinginan) untuk memiliki buku-buku bersejarah & bernilai tinggi….Bapak-bapak, Ibu-ibu, ladies and gentlement, saya persembahkan…..

sarinah

Sarinah (1963)

dbbr2

Dibawah Bendera Revolusi (1964)

Dua buku karya Bung Karno yang sangat masyhur dan banyak dicari orang, Sarinah (yang dicetak ulang tahun 2001) dan buku Dibawah Bendera Revolusi Jilid Pertama (dari 2 Jilid). Semoga buku ini tidak hanya menjadi onggokan buku-buku koleksi yang kemudian dibungkus plastik, bukan lagi sebagai barang yang di takuti oleh penguasa orde penguasa tertentu, tetapi bisa saya pahami dan amalkan dan diwariskan kepada anak-cucu. Amin





Resensi Buku : Novel Pangeran Diponegoro; Menggagas Ratu Adil – Remy Sylado

18 09 2008

img 6172

Akhir pekan lalu saya kembali menghidupkan ritual menambah wawasan saya dengan mencuci mata di toko buku Gramedia Plaza Semanggi. Tanpa sengaja pandangan mata saya tertuju kepada buku warna merah dengan judul kecil yang cukup provokatif, ya, buku karangan Remy Sylado berjudul Novel Pangeran Diponegoro;Menggagas Ratu Adil.

Buku terbitan Tiga Serangkai, seharga Rp.68.000,dan memiliki 339 halaman ini dengan tanpa rasa berdosa cukup saya “bantai” selama 2 hari saja.

Diawali dengan meminjam penuturan dialog “narator” di era kini yang perlahan mengajak pembaca memulai mengenali tokoh-tokoh didalam cerita secara mundur/flashback ke masa lampau.

Pembangunan awal tokoh Pangeran Ontowiryo disajikan dengan sangat apik dan sangat diusahakan tidak melenceng terlalu jauh dari sejarah tertulis maupun sejarah tertutur. Dinamika politik, birokrasi dan intrik kehidupan keraton sungguh sangat enak diikuti.

Bagian tengah dari buku ini seharusnya bisa menjadi puncak dari tutur heroisme seorang pangeran Ontowiryo yang saling berhadapan dengan, katakanlah musuh terbesarnya yang justru pada buku sejarah yang pernah saya baca ketika masa SMP-SMA, diceritakan memulai pertikaian dengan Ontowiryo ketika sebagian tanah milik Ontowiryo diambil untuk pembangunan proyek ambisius sang musuh besar, tetapi entah kenapa bagian-bagian cerita ini ada yang sepertinya hendak “disimpan nanti” oleh sang penulis.

Bagian akhir pun serasa ingin agak menjauhkan figur sang pangeran Ontowiryo untuk tidak terlalu buru-buru tampil, dengan menitik beratkan perjalanan sang pengganti musuh besar pada bagian tengah, dan memiliki kesan terburu-buru serta “terpotong” untuk nanti dilanjutkan

Secara keseluruhan novel karya Remy Sylado seperti biasanya sangat enak dibaca, dukungan-dukungan literatur sejarah seakurat mungkin dipaparkan untuk lebih mendekatkan novel ini dengan kondisi riil pada waktu itu, dus kritik-kritik yang membangun hasil pengutaraan dari seorang Remy Sylado yang prihatin terhadap kondisi bangsa Indonesia. Mungkin bagi yang ingin membaca novel ini bisa sambil juga membaca The Histories of Java dari Sir Thomas Raffles atau pun buku sejarah perjuangan pra kemerdekaan 1945 sebagai sandingan.

Akhirnya tiada gading yang tak retak, kekurangan saya dalam meresensi novel ini juga diimbangi dengan kekurangan dari cetakan novel yang saya peroleh dalam kondisi hilangnya teks beberapa halaman alias kosong yaitu pada halaman 250-251, 254-255, 258-259, 262-263 sehingga mengganggu proses penikmatan karya yang enak dibaca ini.

img 6174

8 Halaman yang hilang.





Menunggu diresmikannya alat anti gempa oleh YBS

6 09 2008

Sinar Harapan IndoGempa (SHI), itulah mungkin perusahaan yang nantinya akan menjadi promotor alat temuan saya yang bisa menangkal gempa yang kerap terjadi di Indonesia. Ya alat ini nantinya tidak hanya mendeteksi gempa yang terjadi tetapi bahkan akan menangkal gempa yang keburu nyelonong masuk melewati detektor gempa, bahkan gempa yang nyelonong masuk tidak hanya akan ditangkal tetapi kemudian dicegah untuk bepergian pulang balik seenaknya masuk ke kawasan Indonesia, di amanken kemudian dibina atau jikalau tidak bisa dibina alat ini nantinya akan menggunakan formasi 4-3-3 atau bahkan 0-0-10 untuk menyerang gempa-gempa yang nakal.

Sekarang yang saya butuhkan adalah promotor SHI yang tidak pintar tetapi cukup dekat dengan pemegang kekuasaan  yang juga tidak perlu pintar-pintar amat, peragu tetapi memiliki sumber keuangan yang wah dan sebagai imbalannya saya berinisiatif memberikan kompensasi materi dan non materi minimal mencantumkan inisial nama sang promotor dibelakang nama produk saya,  SuperAntiLini-MrX.

Tidak perlu pusing memikirkan kenaikan harga elpiji yang semakin genit, atau ritual kemacetan di ibu kota yang semakin lama menjadi trade mark yang anehnya dijadikan kebanggaan bersama. Yang saya idamkan nantinya produk itu menjadi sensasi yang bombastis dengan di resmikan oleh sang penguasa, urusan kritik kritis karena produknya berefek samping negatif ya belakangan, tinggal nanti bilang produk saya masih dalam tipe proto atau RC1 a (Release Candidate One alpha), belum di patch menggunakan ServicePack terbaru  sehingga belum maksimal dan salahkan saja media yang ke ge-er-an over-meliputnya.

Lain kali saya juga akan mengusahakan penemuan produk pengganti kerja keras/upaya keras, supaya manusia cukup dengan berucap kerja keras, maka selesailah pekerjaannya seinstant mie instant. Karena saya iri dengan keberhasilan penemu alat pelupa dan pemaaf yang laku keras di negeri saya, seperti De neurealizer­-nya MIB.