Hari sabtu tanggal 20 September 2008 yang lalu tiba-tiba saya memiliki keinginan untuk pergi ke daerah pasar Senen & Kwitang untuk alasan sentimentil, mengingat masa lalu ketika kuliah dan sekedar iseng mencari buku-buku yang memiliki kriteria menarik, tua & syukur-syukur memiliki nilai sejarah tinggi.

Pasar Senen (sumber tidak diketahui)
Perjalanan menuju ke daerah Pasar Senen, melalui rute melewati pasar Meister/Mester atau pasar Jatinegara menggoda pikiran saya berimanjinasi membayangkan kondisi daerah ini di jaman dahulu, terima kasih kepada buku karangan Remy Sylado yang juga turut membantu pikiran saya untuk membayangkan tempat dimana seorang Gubernur Jenderal Belanda dahulu kala pernah terdesak oleh lawannya dan melarikan diri kedaerah ini. Daerah ini dimana gereja Koinonia yang agung yang hingga saat ini merupakan bangunan bersejarah yang masih terawat,disamping mungkin bangunan bekas markas Kodim 0505 yang saat ini sedang di restorasi….ah andai saja Pemda DKI memiliki keinginan merestorasi cagar budaya selain Passer Baroe dan daerah kota tua.

Gereja Koinonia, Jatinegara (sumber: http://www.arthazone.com/photos/coffetime/Nov2007/users/iwan/jatinegara.jpg )

Pasar Jatinegara (sumber:http://2.bp.blogspot.com/_a378mcmEc38/SNc78veuZUI/AAAAAAAAArQ/e6nNVwhwIBM/s1600-h/jt.JPG)
Perjalanan menyusur melewati kawasan Berlan atau Berenlaan yang sayangnya sekarang identik dengan tempat sering terjadinya perkelahian antar warga (uniknya Remy Sylado menjelaskan mengenai sejarah Berlan ini di buku Pangeran Diponegoro juga seperti kondisi tersebut pada jaman dahulu), kawasan ini pun sebenarnya masih satu-kesatuan dengan daerah Pasar Mester karena menjadi tempat dimana kekuaasaan Belanda menyerahkan kekuasaannya kepada Inggris (terkuak juga di buku Remy Sylado) dan dikawasan Berlan ini banyak terdapat bekas kediaman para pahlawan militer Indonesia .
Memasuki kawasan Salemba, di daerah ini juga terdapat sebuah saksi sejarah perjalanan bangsa ini di era paska-kemerdekaan yang kelak akan mengantarkan bangsa Indonesia memasuki perubahan order pemerintahan, ya coba anda tebak sendiri ya
, kemudian terdapat sebuah bioskop yang terkenal dan sering memutar film-film negeri India (hayo tebak apa?
) didaerah Jalan Kramat (Pulo) .
Sampai dikawasan Kwitang ingatan saya akan tempat ini adalah, cari buku. Ya, mencari buku baik buku baru atau bekas, buku bersejarah atau bahkan yang “non-cukai” selalu indentik dengan kawasan ini. Di kawasan ini pulalah terdapat toko buku Gunung Agung yang pada era pemerintahan Bung Karno turut berperan dalam mendistribusikan buku-buku karya Bung Karno yang mashyur dan terkenal langka. *winks*
Dikawasan inilah saya menemukan buku yang menurut hati saya sangat menarik, yaitu buku antik This Americas Story (WILDER, LUDLUM AND BROWN, Houghton Mifflin Company,1956) yang isinya menggambarkan sejarah negara adikuasa tersebut semenjak awal kala didirikan. Buku kedua adalah World Ways, Mans Ways and Times (1954) saya lupa detail buku ini. Hal yang membuat saya ingin membeli buku “bekas” ini adalah pemaparan sejarah yang di tuangkan dengan ilustrasi bergambar yang sangat memudahkan proses “pencernaan” buku ini. Harga yang harus ditebus untuk dua buku bagus ini, Rp.60.000,- saja
.

World Ways, Mans Ways and Times

This Is Amerca’s Story
Mencari buku di pasar Senen (tidak jauh dari Kwitang) sebenarnya bukanlah hal yang lumrah, karena pasar ini lebih identik dengan pasar-pasar umumnya (yang dikelola PD.Pasar Jaya) tetapi bukan berarti pasar ini tidak terdapat buku-buku yang menarik loh (ingatan saya di masa SMA adalaha naik kereta dari Cikarang, cari buku ekonomi berbahasa inggris, dan dipasar Senen inilah ditemukan). Dan sekarang ini pasar Senen merupakan tempat “bermigrasi”nya para penjual buku yang dulunya berjualan di area trotoar/ruang terbuka hijau daerah Kwitang (inget Alm Gito Rollies di AADC
) yang berada di lantai 4 dari gedung PD.Pasar Jaya ini (err…hari-hari ini di lantai 2-3 saya lihat banyak sekali terdapat pedagang-pedagang atribut kampanye (parpol atau perorangan)).
Dan ternyata ditempat inilah justru saya mendapatkan “grand prize” dari kisah perburuan (dan keinginan) untuk memiliki buku-buku bersejarah & bernilai tinggi….Bapak-bapak, Ibu-ibu, ladies and gentlement, saya persembahkan…..

Sarinah (1963)

Dibawah Bendera Revolusi (1964)
Dua buku karya Bung Karno yang sangat masyhur dan banyak dicari orang, Sarinah (yang dicetak ulang tahun 2001) dan buku Dibawah Bendera Revolusi Jilid Pertama (dari 2 Jilid). Semoga buku ini tidak hanya menjadi onggokan buku-buku koleksi yang kemudian dibungkus plastik, bukan lagi sebagai barang yang di takuti oleh penguasa orde penguasa tertentu, tetapi bisa saya pahami dan amalkan dan diwariskan kepada anak-cucu. Amin
