Ooh God I Wish I Could Go To This School
27 02 2008Komentar : 1 Komentar »
Kategori : What's Goin On To Me?
Seringkali saya bertemu dan berinteraksi dengan alumni lulusan baru dari almamater saya dan dalam diskusi saya dengan para alumni baru tersebut tercetus keinginan serta harapan-harapan mereka setelah mereka selesai bergumul dengan dunia kampus.
Salah satu wacana yang mengemuka adalah keinginan untuk bekerja, mengamalkan pengetahuan dan kecakapan mereka di bidang IT, dan tentu saja angan-angan untuk bekerja di perusahaan IT ternama seperti alumni-alumni sebelumnya (*mendadak muka memerah,idung meninggi*
)
Well, my boy….i dont blame you, memiliki impian setinggi langit adalah manusiawi, yang harus menjadi pegangan adalah bagaimana menyikapi hal sebaliknya, yaitu ketika kesulitan mendapatkan pekerjaan ataupun kesulitan uuntuk memulai usaha kecil (starup company) khususnya bidang IT menjadi sebuah kepelikan (red:tantangan) yang harus dipecahkan.
Sebagai seorang pencari kerja pemula yang penuh potensi dan idelisme, bekerja diperusahaan besar ataupun ternama mungkin bukan pilihan yang tepat walaupun memberikan tantangan tersendiri. Perusahaan besar atau ternama umumnya lebih memilih para pekerja berpengalaman disamping karena keahlian dan pengalamannya yang sudah terasah.
Tempat yang cocok dan baik bagi pencari kerja pemula adalah perusahaan startup atau berskala kecil. Kenapa? karena umumnya perusahaan kecil atau startup adalah jenis usaha dengan keterbatasan finansial, sumberdaya manusia-yang pada akhirnya akan meng-over-optimalkan (red:secara paksa mendayagunakan) segala modal yang mereka miliki untuk beroperasi dan meraih keuntungan dengan beban operasi yang rendah. But that is where the diamond made
.
Startup company atau perusahaan kecil adalah tempat dimana “berlian-berlian” terbaik akan dilahirkan, dan perusahaan besar hanyalah “museum tempat berlian-berlian dipajang” dan kemudian dijual
.
Bila dibuat sebuah ilustrasi piramida tentang penuturan saya diatas, alumni-alumni baru/para pencaker baru sangat cocok berinteraksi dengan startup company, baik sebagai karyawan atau bahkan pemilik perusahaan.
Well, gak perlu waktu lama untuk orang lain memperebutkan bekas gw :D, baru kemaren di hapus, hari ini sudah gw iseng2 cari di google untuk keyword Jesie, dan ternyata masih menampilkan cache dari bekas blog yang lama dengan tag yang sama….hehehehe gak tau deh siapa yang rugi, gw atau yang punya blog “baru” jesie.blogsome.com dengan nama lama.
But Who care’s, i’m only intend for blogging, not looking for popularity. ![]()
Akhirnya saya memutuskan untuk menghapus http://jesie.blogsome.com dari kehidupan ber-internet saya, hal yang sangat sulit dilakukan karena alamat hosting dari blogsome tersebut sudah menjadi bagian dari diri saya selama menjadi bagian dari komunitas blogger dan sudah menjadi “rumah” yang nyaman untuk beberapa waktu bagi saya di dunia maya.
Posting artikel di http://jesie.blogsome.com sudah berhasil saya pindahkan ke blog ini, hanya saja saya tidak bisa memindahkan komentar-komentarnya yang ada (walaupun sudah berhasil saya simpan sebagai feed rss dengan nama file comment.xml) dan wordpress.com memang payah untuk kemampuan impor komentar (gratisan kok ngeluh
).
Import file feed.xml untuk posting-posting pun sedikit dikutak-katik, karena wordpress.com rada bawel memaksa pengguna untuk mengikuti standar mereka (yayaya…ngenger hosting blog kok rewel
)
Jadi untuk para penggemar http://jesie.blogsome.com jangan sedih ya :D, blog ini isinya juga masih sama kok, cuman beda alamat ama header image aja (lebih keren sih
)
Trim’s to blogsome.com, teman-teman blogger dan pengunjung yang sudah mampir.
Stop kekerasan di sepakbola Indonesia!!!
I cry to stand witnessing the Indonesian football goes fall. Does it necessary to see more blood to change the heart and mind of the Indonesian football lovers (red: PSShIt) ? Or is it just common news to watch another life has been taken for something that supposedly to be joy.
No more to say, I’m too grieve to talk Indonesia’s dying football.
My deepest condolence for the late Fathul Mulyadin, the greatest Indonesia’s football lovers