Show me the money!

21 12 2006

I’ve recently had time to read several email that stored in my inbox after several day haven’t got chance to look upon, plus the long period of “hibernation” due to long holiday in the last weeks of October for Lebaran and my mudik journey to the west side of the country to my parents in law. Although the opportunity came when I’m doing an on site jobs outside Jakarta to replace my fellow office for sick leave, I’m pretty excited to know that i’m back to civilization P , after having a ” communication diffability” on Sumatera.

Most of the email i received connected with several projects notification from my employer, and the number of the present is equal with several email greetings for Lebaran from my friend and colleague.

My intention stop for a while to a several email that sent by a mailing list provider from the workers union of my employer that discussing part of it regarding working over time.

The discussion turn out very flaming, distracted by an act of several member of the mailing list on expressing their “slight” unhappiness to the effort of the member of the worker union connected with the point of working over time rules.

At first, i never had any intention to involve myself for the discussion, because i knew the person which flaming around the forum is always doing it loopingly. But then, he manage to drew my intention.

He’s email complain regarding his condition while working over time both inside or outside of the office has pissing me off, and also some of the friend that lied on the same floor with me, whom i guess at the first time seems to “patiently” enough facing the “whinnying man” email.

I agree with the “whinnying man” vision and complain, but what i cannot tolerate is the way he’s always do, complaining the workers union effort in fighting most of the employee demand to the board of management, positioning the worker union as a “boxing sack”, without even spare his time to attend any meeting with the worker unions for discussion, because of his busyness. Dude, thats like your barking around behind others man back without even able to show the guts of yours.

Sometimes we must take to time to reconsider between the value of professionalism of our with a systems call “loyalty”,“dedication”, a self satisfaction in working.

Me, always considering that discussion is one of the elegant way to solve problem, but if it cannot satisfied enough, than taking the “highway” as a way to redefine the meaning of “loyalty”, “dedication”, and “professionalism” to our current employer is much better way, instead of causing a low determination while working.

Like most of Samurai’s in the Japanese action movie (hell, ya i watched Kenshin the Batoshai D ) in serving their master, failure in obligating the duties means failures to the Bushido way and that also means disgrace and even death by suicide (Harakiri) or became a Ronin.

It’s not always about “show me the money”, but sometime its about a man struggle to keeps his honor to himself or to each compatriot or to the one his serve for or even more maybe to the one he love. )

A person note who sometimes complain about the Japanese people attitude in Indonesia, but in the same time admiring the Japanese Toku’s and anime’s





Ke Singapura, (Anti Perang & Republiken) Jakarta, dan sakit di akhir tahun. (Bagian I)

15 12 2006

Pada akhir bulan November 2006, saya mendapatkan kesempatan untuk pergi keluar negeri untuk pertama kalinya dalam hidup saya (norak ya :p) dalam rangka perjalanan dinas dari tempat saya bekerja.

Perjalanan dinas itu merupakan kunjungan dadakan ke kantor regional Asia Pasifik untuk mengikuti pelatihan yang ada hubungannya dengan pekerjaan saya saat ini. Pelatihan ini mencakup pelatihan peranti lunak serta peranti keras, dan tentu saja pelatihan pribadi bahasa Inggris saya sudah lama acak-kadut karena jarang terasah.

Berangkat pada Selasa malam 27 November 2006, 19:30 waktu Indonesia, dan tiba di Changi pada hari yang sama pada pukul 22:30 malam waktu Singapura, dan masih belum memiliki tempat menginap atau tepatnya kami mengalami kesulitan mendapatkan penginapan dengan harga terjangkau (< 100SGD – 150SGD permalam).

Karena dalam kondisi yang sudah lelah dan sangat larut, saya beserta rekan memutuskan untuk menginap di hotel darurat yang bila menurut supir taksi adalah “messy hotel“, di daerah Lavender Street (Foch Road), dekat dengan pusat perbelanjaan mur-mer (murah-meriah) Mustafa Center.

Kesan pertama tentang Singapura adalah bersih, hijau, tertib, dan tentu saja bebas macet. Kondisi lingkungan diatas secara fisik (bersih,hijau –red) mengingatkan saya bila bepergian ke luar daerah (luar Jakarta -red) semisalkan Bogor, Medan, Pati, atau Probolinggo, tentu dengan kekecualian masih ada kurang tertibnya masyarakat dalam berlalu lintas dan ditambah kurang berimbangnya jumlah kendaraan yang ada berbanding dengan jumlah tenaga penegak hukum di jalanan (oh ya, saya bahkan tidak pernah melihat petugas hukum di jalan-jalan di Singapura, kecuali didalam bandara Changi) maupun jalur transportasi darat. Oh, mungkin saja kota-kota diatas di Indonesia suatu saat nanti bisa berbagi beban dengan Jakarta yang over-Me(ga)tropolitan dan julukan kota Pati sebagai pusat fesyen, Probolinggo sebagai pusat kota ekonomi bisa sejajar dengan Jakarta sebagai pusat pemerintahan.

Kesempatan untuk mengenal Singapura lebih jauh hanya datang pada saat malam hari, mengingat jadwal di Singapura sangat ketat dan menghabiskan waktu seharian untuk pelatihan, jadi hanya beberapa tempat (Mustafa Center, Orchard Road, Chinatown) yang sempat saya singgahi, itupun dengan kondisi yang dekat dengan Transportasi Cepat Massal/MRT (Mass Rapid Transportation), karena sulitnya mendapatkan taksi (aku cinta taksi Jakarta D ).

Oh ya, sebagai saran, mungkin bagi rekan-rekan yang ingin bepergian ke Singapura, jangan pernah pergi ke Singapura pada minggu-minggu akhir November hingga awal Desember, tanpa melakukan pemesanan hotel jauh-jauh hari (apalagi hotel dengan harga menengah) atau anda akan berakhir bermalam di hotel yang “messy“ menurut penuturan warga setempat dan buat anda memiliki dana yang besar, masalah diatas bukanlah masalah hiks, winks.

Selama pelatihan saya, saya bertemu dan berkenalan dengan Mike, salah seorang pelatih, berwarga negara Australia, seorang dengan pengalaman di dunia TI lebih dari 20 tahun. Seperti kebanyakan orang bule yang saya pernah temui, Mike sangat komunikatif, banyak pembicaraan menarik tentang pengalamannya, negerinya, dan tentu saja keluarganya. Satu hal yang pasti, ia seorang yang cukup liberal terutama dalam hal mengkritik kebijakan pemerintah Australia dalam mengirim pasukan ke Irak dan mengatakan itu merupakan suatu kesalahan, dan mengatakan bahwa pemerintahan John Howard bisa bertahan selama ini hanya karena Australia selama dalam kepemimpinnya memiliki ekonomi yang stabil. Saya berpikir, wow, pada masa 60-an, Mike mungkin termasuk dalam generasi bunga (flower generation) Andy Warhol, yang mungkin hidup dengan bersih tapi penuh dengan pemikiran membangkang, mungkin loh P . Oh ya, kembali pada masa 60-an, Indonesia adalah salah satu “raja“ Asia yang cukup disegani dan dikagumi D .

Ya, itulah sebagian cerita saya dalam perjalanan di negeri orang dalam beberapa hari, sayangnya penerbangan pulang saya pada jumat malam 1 Desember, harus ditunda selama 2 jam, dan sudah terbayangkan waktu ketibaan di Indonesia adalah sabtu dinihari, untungnya Changi sangar manusiawi dan mungkin saya akan kembali lagi tapi yang pasti, saya usahakan tidak dalam rangka perjalanan dinas , nggak lah yaw . Cerita selanjutnya segera disambung, sementara sila dilihat hasil jepretan di sana yang diolah menggunakan Google Picasa.

Mejeng2

Selamat Hari Idul Adha 10 Dzulhijah 1427 H & Tahun Baru 2007





Ke Singapura, (Anti Perang & Republiken) Jakarta, dan sakit di akhir tahun. (Bagian I)

15 12 2006

Pada akhir bulan November 2006, saya mendapatkan kesempatan untuk pergi keluar negeri untuk pertama kalinya dalam hidup saya (norak ya :p) dalam rangka perjalanan dinas dari tempat saya bekerja.

Perjalanan dinas itu merupakan kunjungan dadakan ke kantor regional Asia Pasifik untuk mengikuti pelatihan yang ada hubungannya dengan pekerjaan saya saat ini. Pelatihan ini mencakup pelatihan peranti lunak serta peranti keras, dan tentu saja pelatihan pribadi bahasa Inggris saya sudah lama acak-kadut karena jarang terasah.

Berangkat pada Selasa malam 27 November 2006, 19:30 waktu Indonesia, dan tiba di Changi pada hari yang sama pada pukul 22:30 malam waktu Singapura, dan masih belum memiliki tempat menginap atau tepatnya kami mengalami kesulitan mendapatkan penginapan dengan harga terjangkau (< 100SGD – 150SGD permalam).

Karena dalam kondisi yang sudah lelah dan sangat larut, saya beserta rekan memutuskan untuk menginap di hotel darurat yang bila menurut supir taksi adalah “messy hotel“, di daerah Lavender Street (Foch Road), dekat dengan pusat perbelanjaan mur-mer (murah-meriah) Mustafa Center.

Kesan pertama tentang Singapura adalah bersih, hijau, tertib, dan tentu saja bebas macet. Kondisi lingkungan diatas secara fisik (bersih,hijau –red) mengingatkan saya bila bepergian ke luar daerah (luar Jakarta -red) semisalkan Bogor, Medan, Pati, atau Probolinggo, tentu dengan kekecualian masih ada kurang tertibnya masyarakat dalam berlalu lintas dan ditambah kurang berimbangnya jumlah kendaraan yang ada berbanding dengan jumlah tenaga penegak hukum di jalanan (oh ya, saya bahkan tidak pernah melihat petugas hukum di jalan-jalan di Singapura, kecuali didalam bandara Changi) maupun jalur transportasi darat. Oh, mungkin saja kota-kota diatas di Indonesia suatu saat nanti bisa berbagi beban dengan Jakarta yang over-Me(ga)tropolitan dan julukan kota Pati sebagai pusat fesyen, Probolinggo sebagai pusat kota ekonomi bisa sejajar dengan Jakarta sebagai pusat pemerintahan.

Kesempatan untuk mengenal Singapura lebih jauh hanya datang pada saat malam hari, mengingat jadwal di Singapura sangat ketat dan menghabiskan waktu seharian untuk pelatihan, jadi hanya beberapa tempat (Mustafa Center, Orchard Road, Chinatown) yang sempat saya singgahi, itupun dengan kondisi yang dekat dengan Transportasi Cepat Massal/MRT (Mass Rapid Transportation), karena sulitnya mendapatkan taksi (aku cinta taksi Jakarta D ).

Oh ya, sebagai saran, mungkin bagi rekan-rekan yang ingin bepergian ke Singapura, jangan pernah pergi ke Singapura pada minggu-minggu akhir November hingga awal Desember, tanpa melakukan pemesanan hotel jauh-jauh hari (apalagi hotel dengan harga menengah) atau anda akan berakhir bermalam di hotel yang “messy“ menurut penuturan warga setempat dan buat anda memiliki dana yang besar, masalah diatas bukanlah masalah hiks, winks.

Selama pelatihan saya, saya bertemu dan berkenalan dengan Mike, salah seorang pelatih, berwarga negara Australia, seorang dengan pengalaman di dunia TI lebih dari 20 tahun. Seperti kebanyakan orang bule yang saya pernah temui, Mike sangat komunikatif, banyak pembicaraan menarik tentang pengalamannya, negerinya, dan tentu saja keluarganya. Satu hal yang pasti, ia seorang yang cukup liberal terutama dalam hal mengkritik kebijakan pemerintah Australia dalam mengirim pasukan ke Irak dan mengatakan itu merupakan suatu kesalahan, dan mengatakan bahwa pemerintahan John Howard bisa bertahan selama ini hanya karena Australia selama dalam kepemimpinnya memiliki ekonomi yang stabil. Saya berpikir, wow, pada masa 60-an, Mike mungkin termasuk dalam generasi bunga (flower generation) Andy Warhol, yang mungkin hidup dengan bersih tapi penuh dengan pemikiran membangkang, mungkin loh P . Oh ya, kembali pada masa 60-an, Indonesia adalah salah satu “raja“ Asia yang cukup disegani dan dikagumi D .

Ya, itulah sebagian cerita saya dalam perjalanan di negeri orang dalam beberapa hari, sayangnya penerbangan pulang saya pada jumat malam 1 Desember, harus ditunda selama 2 jam, dan sudah terbayangkan waktu ketibaan di Indonesia adalah sabtu dinihari, untungnya Changi sangar manusiawi dan mungkin saya akan kembali lagi tapi yang pasti, saya usahakan tidak dalam rangka perjalanan dinas , nggak lah yaw . Cerita selanjutnya segera disambung, sementara sila dilihat hasil jepretan di sana yang diolah menggunakan Google Picasa.

Mejeng2

Selamat Hari Idul Adha 10 Dzulhijah 1427 H & Tahun Baru 2007